Kefamenanu, Timor Tengah Utara, NTT

Logo Yayasan Pijar Timur IndonesiaLogo PKBM Pijar TimurYayasan Pijar Timur Indonesia& PKBM Pijar TimurPenyelenggara PKBM Pijar Timur
Berita

Menyulap Ruang Belajar Menjadi Ruang Berkarya

Pembelajaran mendalam berbasis tenun di PKBM Pijar Timur: tiga belas ibu rumah tangga belajar sains lewat benang dan pewarna alam, lalu mengolah tenun menjadi peluang ekonomi.

Oleh Silvester Nusa, PKBM Pijar Timur

Pendahuluan

Pendidikan kesetaraan bukan sekadar jembatan untuk mengejar selembar ijazah bagi mereka yang tertinggal, melainkan ruang untuk merajut kembali harapan hidup yang sempat pudar. Di PKBM Pijar Timur, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur, kami mendampingi 13 orang ibu rumah tangga yang sebelumnya terpaksa putus sekolah akibat keterbatasan ekonomi. Sehari-hari, mereka bekerja sebagai petani dan penenun tradisional.

Mereka semua putus sekolah karena orang tua tidak mampu membiayai pendidikan. Mereka lalu bekerja sebagai petani lahan kering, kemudian menikah. Kini mereka ingin anak-anaknya tetap sekolah dan tidak mengulangi kisah hidup orang tuanya, sehingga mereka harus membiayai pendidikan anak-anak sekaligus pendidikan mereka sendiri. Sayangnya, keterbatasan modal, minimnya alat, dan kurangnya pemahaman untuk mengemas karya membuat tenun mereka belum bernilai ekonomi tinggi.

Suasana pembelajaran di PKBM Pijar Timur: diskusi kelompok dan berbagi pengetahuan

Kondisi ini mencerminkan tantangan besar di daerah kami. Data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten TTU tahun 2025 menunjukkan angka Anak Tidak Sekolah (ATS) masih tinggi, yakni 386 anak di tingkat SD dan 614 anak di tingkat SMP, ditambah ratusan lulusan yang tidak melanjutkan sekolah. Jika dibiarkan, siklus kemiskinan ini akan terus berulang dari generasi ke generasi. Berangkat dari kegelisahan ini, kami mencoba menghadirkan inovasi nyata: menyatukan mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) dengan praktik menenun melalui pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning) dan pembelajaran kontekstual.

Kami ingin membuktikan bahwa ruang belajar tidak harus kaku. Ruang kelas kami sulap menjadi ruang berkarya, tempat sains, budaya, dan pemberdayaan ekonomi melebur menjadi satu untuk mengubah masa depan warga belajar.

Menghidupkan Sains melalui Benang dan Pewarna Alam

Belajar sepanjang hayat (lifelong learning) memandang bahwa proses belajar berlangsung terus-menerus sejak lahir hingga akhir hayat, tidak dibatasi usia, jenjang pendidikan, maupun ruang kelas formal. Laporan UNESCO yang disusun Jacques Delors, Learning: The Treasure Within (1996), menegaskan empat pilar pendidikan abad ke-21: learning to know, learning to do, learning to live together, dan learning to be.

Berangkat dari paradigma itu, hal pertama yang kami lakukan adalah menghidupkan sains melalui benang dan pewarna alam. Selama ini warga belajar menenun secara turun-temurun tanpa tahu alasan ilmiah di balik setiap prosesnya. Melalui IPAS kami mengubah cara pandang itu, memadukan teori sains modern dengan kearifan lokal yang sudah akrab dengan keseharian mereka.

Suasana belajar menenun di PKBM Pijar Timur

Prosesnya dimulai dari tahap eksplorasi. Bersama-sama kami mendiskusikan sifat serat kapas, karakteristik pewarna alam dari lingkungan sekitar, pengaruh suhu terhadap pencelupan warna, hingga pentingnya menjaga keseimbangan ekologi. Tutor tidak lagi berdiri di depan kelas sebagai satu-satunya sumber ilmu, melainkan fasilitator yang menjembatani pengetahuan ilmiah dan pengalaman para ibu. Terjadilah dialog dua arah (mutual learning): mereka membagikan teknik menenun tradisional yang kaya makna, kami memperkaya pemahaman mereka dengan konsep sains yang logis dan sistematis.

Setelah memahami konsep pewarnaan, para peserta meracik pewarna alami, mewarnai benang, menjemurnya, lalu menenun. Saat merajut benang lungsi dan pakan, mereka tidak sekadar mengasah keterampilan motorik, tetapi juga melatih ketelitian, kesabaran, dan kemampuan memecahkan masalah ketika pola tenun meleset. Setiap kendala di atas alat tenun menjadi bahan refleksi untuk menghasilkan karya yang lebih baik.

Pembelajaran mendalam menekankan pemahaman konseptual, berpikir kritis, pemecahan masalah, dan penerapan pengetahuan dalam situasi nyata, berbeda dengan pembelajaran yang hanya menekankan hafalan. John Biggs dan Catherine Tang (2011) menjelaskan bahwa pembelajaran mendalam terjadi ketika peserta didik aktif membangun makna dengan menganalisis, menghubungkan konsep, merefleksikan pengalaman, dan menerapkannya pada persoalan nyata. Bagi peserta didik dewasa yang kaya pengalaman hidup, pendekatan ini sangat relevan.

Dari Teori di Kelas ke Peluang Ekonomi

Hal kedua yang kami lakukan adalah mengemas teori di kelas menjadi peluang ekonomi nyata. Warga belajar dibekali wawasan kewirausahaan yang aplikatif: menghitung kebutuhan bahan baku, memperhitungkan biaya produksi, menentukan harga jual yang rasional, hingga berdiskusi tentang diversifikasi produk. Kain tenun tidak lagi dijual sebatas kain gulungan dengan harga murah, tetapi mulai dikembangkan menjadi tas, dompet, selendang, taplak meja, hingga cendera mata khas daerah.

Margaretha Leltakaeb, salah seorang warga belajar, mengungkapkan kelegaannya:

“Saya merasa jauh lebih percaya diri. Sekarang saya bisa menghasilkan kain tenun dengan kualitas warna yang lebih baik, dan yang penting saya mengerti ilmu sains di balik proses pembuatannya.”

Elisabet Sait melihat secercah harapan untuk mendongkrak pendapatan rumah tangganya melalui usaha tenun yang dikelola secara profesional. Bagi Yasinta Usono, PKBM Pijar Timur bukan sekadar tempat mengejar ijazah, melainkan ruang untuk menemukan harapan baru, membangun persahabatan, dan memupuk kemandirian hidup.

Warga belajar PKBM Pijar Timur berfoto bersama di depan kain tenun hasil karya mereka

Ruang Belajar yang Berubah

Ruang belajar yang tadinya pasif kini menjadi ruang kolaborasi dan kreativitas yang dinamis. Tenun adalah kearifan lokal yang mengandung nilai budaya, ekonomi, dan pendidikan, sekaligus identitas masyarakat dan hubungan manusia dengan alam. Dampaknya terasa dalam empat hal:

  1. Peningkatan akademik dan literasi sains. Warga belajar memahami konsep IPAS, seperti sifat bahan, perubahan kimia pencelupan, dan ekologi, karena langsung dibuktikan lewat praktik.

  2. Keterampilan vokasional dan kepercayaan diri. Berhasil merampungkan tenun berkualitas menumbuhkan rasa percaya diri peserta yang sempat minder karena putus sekolah.

  3. Pelestarian budaya lokal. Tradisi tenun tetap hidup dan diwariskan, dengan kesadaran akan nilai sejarah, sosial, dan ekonominya.

  4. Kemandirian ekonomi. Pola pikir wirausaha terbentuk, membuka peluang meningkatkan kesejahteraan keluarga lewat produk turunan tenun.

Penutup

Praktik baik ini menegaskan bahwa pendidikan kesetaraan berpotensi besar menjadi instrumen pemberdayaan masyarakat. Dengan meramu belajar sepanjang hayat, pembelajaran mendalam, dan kearifan lokal, pendidikan mampu keluar dari sekadar batas formalitas ijazah. Kami berharap praktik menyulap ruang belajar menjadi ruang berkarya ini menginspirasi dan direplikasi PKBM dan lembaga pendidikan nonformal lain di seluruh Indonesia. Sebab belajar sejati bukan sekadar menambah tumpukan pengetahuan, melainkan menumbuhkan harapan, melestarikan budaya, dan menghadirkan karya nyata yang bermanfaat bagi kehidupan.

Daftar Pustaka

  • Aspin, D. N., & Chapman, J. D. (2000). Lifelong Learning: Concepts and Conceptions. International Journal of Lifelong Education.

  • Ausubel, D. P. (1968). Educational psychology: A cognitive view. Holt, Rinehart and Winston.

  • Bandura, A. (1997). Self-efficacy: The exercise of control. W. H. Freeman.

  • Biggs, J., & Tang, C. (2011). Teaching for quality learning at university (4th ed.). Open University Press.

  • Hisrich, R. D., Peters, M. P., & Shepherd, D. A. (2017). Entrepreneurship (10th ed.). McGraw-Hill Education.

  • Johnson, E. B. (2002). Contextual teaching and learning: What it is and why it's here to stay. Corwin Press.

  • Miles, M. B., Huberman, A. M., & Saldaña, J. (2014). Qualitative data analysis: A methods sourcebook (3rd ed.). SAGE Publications.

  • Mudyahardjo, R. (2010). Pengantar Pendidikan. Jakarta: RajaGrafindo Persada.

  • Trianto. (2014). Mendesain model pembelajaran inovatif, progresif, dan kontekstual. Kencana.

  • UNESCO. (1996). Learning: The treasure within. UNESCO.

  • UNESCO. (2003). Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage. UNESCO.

Bersama Menyalakan Harapan dari Timur Indonesia

Dukungan dan kemitraan Anda membantu kami menjangkau lebih banyak anak, keluarga, dan masyarakat di Nusa Tenggara Timur.

Dukung Kami
PKBM